Minggu, 29 April 2018

Psycholinguistic and Sociolingustic

A. Psikologi dan Linguistik

 1. Psikologi

Kata psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psiche dan logos.psiche yang dalam bahasa  Inggris bersinonim  dengan soul, mind, dan spirit yang mempunyai arti jiwa, sedangkan logos  artinya nalar, logika atau ilmu. Jiwa, dalam bahasa Arab disebut dengan nafs atau ruh yang   merupakan masalah yang abstrak. Secara harfiah psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang keadaan jiwa manusia.

Karena masalah jiwa adalah masalah yang abstrak maka psikologi bukan membicarakan keadaan jiwa itu secara langsung, tetapi mempelajari sikap dan perilaku sebagai ekspresi keadaan jiwa yang ada. Hal ini didasarkan pada sebuah anggapan bahwa jiwa itu selalu diekspresikan melalui raga atau badan yang berbentuk sikap atau perilaku. Dengan mempelajari ekspresi yang tampak pada sikap dan perilaku seseorang maka akan diketahui keadaan jiwa orang yang bersangkutan.




      Dalam setiap perkembangannya, psikologi lebih lebih membahas atau mengkaji sisi manusia yang dapat diamati. Jiwa bersifat abstrak sehingga tidak dapat diamati secara empiris, padahal objek setiap ilmu harus dapat diobservasi secara indrawi. Maka dalam hal ini jiwa  atau keadaan jiwa hanya bisa diamati melalui gejala-gejalanya seperti orang yang sedang gembira akan berlaku riang dengan wajah yang berbinar-binar, dan orang yang sedih akan tampak murung. Meskipun demikian, sering didapati berbagai macam kesulitan untuk mengetahui keadaan jiwa  seseorang dengan hanya melihat tingkah lakunya saja. Tidak jarang dijumpai seseorang yang sebenarnya jengkel atau marah tetapi jiwanya tenang atau malah tertawa.
 Meskipun sikap yang terlahir dari seseorang belum tentu dapat menggambarkan gejolak yang ada dalam jiwanya, namun psikologi lazim disebut sebagai satu bidang ilmu yang mencoba untuk mempelajari  perilaku manusia. Yaitu dengan cara mengkaji hakikat rangsangan, hakikat reaksi terhadap rangsangan tersebut, serta mengkaji terhadap proses-proses akal yang berlaku sebelum reaksi itu terjadi. Sehingga para ahli psikologi saat ini cenderung menganggap psikologi sebagai suatu ilmu yang mengkaji  proses “akal manusia” dengan segala manifestasinya yang mengatur perilaku manusia itu. Tujuan pengkajian akal ini adalah untuk menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol perilaku manusia. 
Lebih lanjut dalam perkembangannya psikologi dibagi menjadi beberapa aliran sesuai dengan filsafat yang dianut. Karena itulah dikenal adanya psikologi mentalistik, behavioristik, dan kognitifistik.Psikologi mentalistik akan melahirkan aliran yang disebut  psikologi kesadaran. Tujuan utama dari psikologi kesadaran ini adalah mengkaji prosesproses akal manusia dengan cara mengintrospeksi atau mengkaji diri. Oleh karena itu, psikologi kesadaran ini sering disebut dengan psikologi introspeksionisme. Psikologi ini juga merupakan  suatu proses akal  dengan cara  melihat ke dalam diri sendiri setelah terjadi suatu rangsangan.
Psikologi behavioristik melahirkan psikologi perilaku. Adapun tujuan utama psikologi ini adalah mengkaji  perilaku manusia yang berupa reaksi apabila suatu rangsangan terjadi serta bagaimana mengawasi dan mengontrol perilaku tersebut. Para pakar psikologi behavioristik ini tidak berminat mengkaji proses-proses akal yang membangkitkan  perilaku tersebut  karena proses-proses akal ini tidak dapat diamati atau diobservasi secara langsung.  Jadi, para ahli psikologi perilaku ini  tidak mengkaji ide-ide, pengertian, keinginan, maksud, pengharapan, dan segala mekanisme fisiologi. Yang dikaji hanyalah peristiwa-peristiwa yang dapat diamati, yang nyata dan konkret, yaitu tingkah laku manusia.
Psikologi kognitifistik sering disebut dengan psikologi kognitif. Psikologi kognitif ini mengkaji proses-proses kognitif manusia secara ilmiah. Yang dimaksud proses kognitif adalah proses-proses akal manusia  yang bertanggungjawab  mengatur pengalaman dan perilaku  manusia. Hal utama yang dikaji dalam psikologi kognitif ini adalah bagaimana cara manusia memperoleh, menafsirkan, mengatur, menyimpan, mengeluarkan, dan menggunakan pengetahuannya, termasuk perkembangan dan penggunaan pengetahuan bahasa. Yang membedakan  dengan psikologi kesadaran adalah bahwa menurut faham mentalisme proses-proses  akal itu berlangsung setelah terjadinya rangsangan. Sedangkan menurut psikologi kognitif proses-proses akal  itu dapat terjadi  karena  kekuatan dari dalam, tanpa adanya  rangsangan  terlebih dahulu. Perilaku yang muncul sebagai hasil proses akal seperti  ini disebut perilaku  atau tindakan bertujuan  sebagai hasil dari kreativitas organisme manusia itu sendiri.

2. Linguistik

Linguistik  secara umum lazim disebut dengan ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Linguistik memperoleh kedudukan sebagai ilmu yang mandiri (otonom) sebenarnya baru pada permulaan abad ke–20, yaitu setelah  terbitnya  buku yang ditulis Ferdinand de Saussure (1916), Cours de Linguistique Generale, kemudian karya E Sapir (1912), Language, an Intoduction to Study of Speech, serta  terbitnya  buku L. Bloomfield (1933) Language.  
Linguistik merupakan ilmu yang empiris. Sebagai ilmu yang empiris kajian linguistik  bertolak dari  pengamatan yang objektif dan teliti  terhadap gejala tutur yang berulang sama. Keempirisan linguistik antara lain ditentukan oleh:
a.              Data kebahasaan yang benar-benar ditemukan atau dapat ditemukan dalam wujud pertuturan (pemakaian bahasa dapat dicek oleh siapapun).
b.             Tersedianya data dalam jumlah yang sangat memadai.
c.              Kemungkinan hasil kajian dapat diverifikasi oleh pengkaji lain secara objektif.
Sebagaimana ilmu pengetahuan lain pada umumnya, Linguistik mempunyai objek kajian. Objek kajian dalam linguistik adalah bahasa, sedangkan bahasa sendiri merupakan fenomena  yang senantiasa hadir dalam setiap aktivitas kehidupan manusia, maka linguistik itupun menjadi sangat luas bidang kajiannya. Oleh karena itu, hal ini dapat dilihat dengan adanya berbagai cabang linguistik yang dibuat berdasarkan berbagai kriteria atau pandangan. Secara umum pembidangan linguistik ini adalah sebagai berikut:
Pertama, menurut objek kajiannya, linguistik dapat dibagi atas dua cabang besar, yaitu linguistik mikro dan linguistik makro. Objek kajian dalam linguistik mikro struktur internal bahasa itu sendiri mencakup struktur fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.  Sedangkan objek linguistik makro adalah bahasa dalam hubungannya  dengan faktor-faktor di luar  bahasa seperti faktor sosiologis, psikologis, antropologis, dan bidang-bidang seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, neurolinguistik, dan etnolinguistik.
Kedua, menurut tujuan kajiannya, linguistik dapat dibedakan atas dua bidang besar yaitu linguistik teoritis dan linguistik terapan. Kajian teoretis hanya ditujukan untuk mencari  atau menemukan teori-teori linguistik belaka. Hanya untuk membuat kaidah-kaidah linguistik  secara deskriptif. Sedangkan kajian terapan ditujukan untuk menerapkan kaidah-kaidah linguistik dalam kegiatan praktis, seperti dalam pengajaran bahasa, penerjemahan, penyusunan kamus, dan sebagainya.
Ketiga, menurut periode perkembangannya terdapat linguistik historis dan sejarah linguistik. Linguistik historis mengkaji perkembangan dan perubahan suatu bahasa atau sejumlah bahasa, baik dengan diperbandingkan  maupun tidak. Adapun sejarah linguistik mengkaji perkembangan ilmu linguistik  baik yang mengenai tokoh-tokohnya, aliran-aliran teorinya, maupun hasil-hasil kerjanya.
Senada dengan hal di atas, linguistik juga dapat dibedakan menjadi linguistik deskriptif dan linguistik normatif/preskriptif. Masing-masing mempunyai orientasi dan tujuan yang berbeda. Linguistik dekriptif mengkaji fenomena kebahasaan yang senyatanya ada dan memberikan sistem bahasa berdasarkan data yang sebenarnya. Hal ini berbeda dengan linguistik normatif/preskriptif. Linguistik normatif mengkaji bahasa berdasarkan norma atau ketentuan yang berlaku. Suatu wujud pertuturan bisa dianggap salah atau benar berdasarkan norma tertentu tersebut. Sikap normatif ini biasanya terdapat dikalangan pengajaran bahasa di sekolah.
Keempat, berdasarkan cara kerjanya jenis linguistik yang lain adalah linguistik komparatif sinkronis atau kontrastif dan linguistik diakronis. Sebagaimana terlihat dari namanya, cara kerja dari linguistik komparatif adalah memperbandingkan. Disebut linguistik komparatif sinkronis jika membandingkan dua satuan lingual atau lebih yang serumpun untuk mengetahui persamaan dan perbedaannya. Misalnya secara sinkronis bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa Madura, Melayu, dan seterusnya dengan tujuan untuk menentukan perkerabatan bahasa atau untuk mengetahui persamaan dan perbedaan gramatisnya. Disebut linguistik komparatif kontrastif, jika membandingkan dua bahasa yang tidak serumpun. Misalnya bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Pada jenis linguistik komparatif diakronis dibandingkan beberapa bahasa yang serumpun dari waktu ke waktu dengan tujuan pokok membuat rekonstruksi bentuk proto atau bentuk asal bahasa induknya.   

       B. Psikolinguistik

Kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan linguistik, yaitu dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri sendiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan pula. Namun, keduanya sama-sama mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa. Dengan demikian cara dan tujuannyapun juga berbeda.
Meskipun cara dan tujuannya berbeda, banyak bagian-bagian objeknya yang dikaji dengan cara yang sama dengan tujuan yang sama, meskipun tidak sedikit yang berlainan. Oleh karena itu, telah lama dirasakan perlu adanya kerja sama yang sinergis antara kedua disiplin ilmu ini untuk mengkaji bahasa dan hakikat bahasa. Melalui kedua disiplin ini diharapkan dapat diperoleh sebuah hasil kajian yang lebih baik dan bermanfaat.
Hubungan sinergis antara kedua disiplin ini pada awalnya disebut linguistics psychology dan ada juga yang mengatakan psychology of language dengan penekanan yang berbeda pada keduanya. Kemudian sebagai hasil yang lebih sistematis lahirlah sebuah ilmu baru yang disebut Psikolinguistik, sebagai ilmu antar disiplin, antara psikologi dan linguistik. Istilah psikolinguistik itu sendiri baru terlahir tahun 1954, yaitu saat terbitnya buku Psycholinguistics: A survey of Theory and Research Problems yang ditulis oleh Charles E. Osgood dan Thomas A. Seboek, di Bloomington, Amerika Serikat.
Psikolinguistik dapat menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana berbahasa itu diperoleh oleh manusia. Maka secara teoretis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat suatu bahasa serta proses pemerolehannya. Dengan kata lain psikolinguistik mencoba menjelaskan perihal struktur bahasa serta bagaimana struktur bahasa tersebut diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat yang digunakan dalan tuturan tersebut.
Hubungan yang sinergis antara psikologi dan linguistik tidak hanya dapat menjelaskan bahasa saja, akan tetapi masih membutuhkan bantuan berbagai macam disiplin ilmu yang lain seperti neurologi, neuropsikologis, neurolinguistik, dan lain sebagainya. Sehingga walaupun telah digunakan istilah psikolinguistik, bukan berarti hanya kedua bidang ilmu itu yang diterapkan, akan tetapi hasil dari berbagai macam penelitian dari ilmu-ilmu lain pun dimanfaatkan.

1. Macam-macam Psikolinguistik

Berdasarkan uraian di atas Psikolinguistik telah  menjadi sebuah disiplin ilmu yang sangat luas dan kompleks, sehingga dalam perkembangannya telah banyak melahirkan berbagai macam subdisiplin  psikolinguistik, di antaranya adalah sebagaimana dijelaskan Chaer (2003) berikut ini:
§  Psikolinguistik Teoritis, yaitu psikolinguistik yang membahas  tentang teori-teori bahasa  yang berkaitan dengan proses-proses mental manusia dalam berbahasa, misalnya dalam rancangan fonetik, diksi, sintaksis, wacana, dan intonasi.
§  Psikolinguistik Perkembangan, yaitu psikolinguistik yang mengkaji tentang proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama (BI) maupun proses pemerolehan bahasa kedua (B2). Di samping itu psikolinguistik perkembangan juga mengkaji proses pemerolehan fonologi, semantik, sintaksis yang diperoleh secara berjenjang, bertahap dan terpadu.
§  Psikolinguistik Sosial, yaitu psikolinguistik yang berhubungan dengan aspek-aspek sosial bahasa. Bagi suatu masyarakat bahasa tertentu, bahasa tidak hanya merupakan alat berkomunikasi saja akan tetapi merupakan sebuah ikatan batin yang sulit untuk ditinggalkan.
§  Psikolinguistik Pendidikan, yaitu psikolinguistik yang mengkaji aspekaspek pendidikan dalam pendidikan formal di sekolah. Seperti peranan bahasa dan pengajaran keterampilan berbahasa, serta pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan ide dan perasaan.
§  Neuropsikolinguistik, yaitu psikolinguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan otak manusia. Para ahli neurologi telah banyak menganalisis struktur biologis otak manusia, serta telah memberi nama pada bagian otak tersebut. Dalam hal ini neurolinguistik berperan untuk menjelaskan tentang masukan bahasa dan bagaimana keluaran bahasa setelah diprogram dan dibentuk dalam otak tersebut.
§  Psikolinguistik Eksperimen, dalam hal ini psikolinguistik berusaha melakukan sebuah eksperimen dalam berbagai macam kegiatan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa serta akibat yang ditimbulkan pada pihak lainnya.
§  Psikolinguistik Terapan, psikolinguistik ini berkaitan dengan penerapan dari berbagai macam temuan di atas kedalam bidang-bidang tertentu yang memerlukannya. Yang termasuk kedalam bidang ini adalah psikologi, linguistik, pertuturan dalam pemahaman, pembelajaran bahasa, pengajaran membaca, neurologi,  psikiatri, komunikasi, dan sastra.       
Psikolinguistik juga dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bidang utama sebagai berikut: 
§  Psikolinguistik Umum, yaitu suatu studi mengenai bagaimana pengamatan atau persepsi orang dewasa tentang bahasa dan bagaimana ia memproduksi bahasa. Selain itu, psikologi umum juga mengkaji proses kognitif yang mendasari pada waktu seseorang menggunakan bahasa.
§  Psikolinguistik Terapan, hal ini merupakan aplikasi dari teori-teori psikolinguistik dalam kehidupan sehari-hari pada orang dewasa ataupun pada anak-anak. Dalam bidang terapan ini ini masih dibedakan menjadi dua macam. Pertama, Applied general psycholinguistics yang meliputi Normal Applied Psycholinguistics (membicarakan pengaruh perubahan ejaan terhadap persepsi orang mengenai ciri visual kata-kata) dan Abnormal Applied Psycholinguistics  (mengkaji masalah kesukaran pengucapan pada orang-orang penderita aphasia yang kadang-kadang dapat mengerti bahasa tetapi kesulitan untuk mengucapkannya). Kedua, Applied Developmental  Psycholinguistics  yang terdiri atas (1) Normal Applied Developmental Psycholinguistics yang membahas tentang bagaimana membuat program belajar membaca dan menulis, apakah lebih baik menggunakan metode global atau metode sintesis atau lainnya. (2) Abnormal Applied Developmental Psycholiguistics yang membahas mengenai apa yang dapat dilakukan untuk membantu anakanak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasanya yang disebabkan adanya kelainan yang bersifat bawaan. Contohnya anak tuna rungu.
§  Psikolinguistik Perkembangan, yaitu suatu kajian perolehan bahasa pada anak-anak dan orang dewasa. Dalam hal ini juga dikaji tentang persoalan-persoalan yang dialami oleh seorang anak yang harus belajar dua bahasa sekaligus, bagaimana seorang anak memperoleh bahasa pertamanya, apakah orang dewasa yang belajar bahasa kedua juga mengalami hal yang sama dengan seorang anak dalam memperoleh bahasa pertamanya, dan teknik pengajaran bahasa yang bagaimana yang dapat mengurangi terjadinya interferensi antara dua bahasa pada pembelajar. 
 

2. Ruang Lingkup Kajian Psikolinguistik

Psikolinguistik yang merupakan sebuah kajian mengenai penggunaan bahasa dan perolehan bahasa oleh manusia, akan senantiasa menempatkan manusia sebagai pelaku dan sekaligus pengguna bahasa, sehingga sistem-sistem yang ada pada diri manusia akan dapat menjelaskan bagaimana manusia dapat menangkap ide-ide orang lain dan bagaimana ia dapat mengekspresikan ideidenya sendiri melalui bahasa, baik secara tertulis maupun secara lisan.  
Adapun ruang lingkup kajian psikolinguistik dapat dijelaskan melalui tabel berikut ini. 

Tabel Ruang Lingkup Ilmu Psikolinguistik
Bagian
Sub Bagian

Contoh
Psikolinguistik
Umum






Psikolinguistik
Perkembangan
Persepsi

Auditif
Visual
Mendengarkan menulis, membaca
Kognitif


Ingatan Berpikir intuisi
Memori         Verbal
Berpikir Verbal

Produksi

Auditif 
Visual

Berbicara
Menulis

Bahasa Pertama
Bahasa Kedua


-  Struktur kalimat    dua kata
-  Belajar membaca
-  Interferensi atau kemudahan yang disebabkan oleh bahasa pertama.
Psikolinguistik terapan
Umum
Normal
Studi tentang ejaan
Menyimpang
Aphasia
Perkembangan
Normal
Kurikulum untuk belajar membaca

Menyimpang
Gagap, buta warna, disleksia


3.   Pengertian Sosiolinguistik
a.       Secara etimolongi kata Sosiolinguistik berasal dari bahasa Inggris, yaitu terdiri dari kata “socio” yang artinya masyarakat dan “linguistics” yang artinya ilmu bahasa.[1]  Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang sagat erat.

b.      Secara terminolongi, Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kegiatan sosial ataupun gejala sosial dalam suatu masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil objek bahasa sebagai objek kajiannya.[2]


Berikut ini ada beberapa defenisi sosiolinguistik yang dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya :[3]
a)        Kridalaksana, sosiolinguistik lazim didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan dia antara para bahasawan dengan fungsi variasi bahasa itu di dalam masyarakat bahasa.
b)        Fishman, sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa, dan pemakaian bahasa, karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur.
c)        Booiji, mendefenisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan yang berperan dalam pergaulan.
d)       Wikipedia, sosiolinguistik adalah kajian interdisipliner yang mempelajari pengaruh budaya terhadap cara suatu bahasa digunakan. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain.
e)        Tarigan, merangkum semua pendapat tentang sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedududkan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa di dalam masyarakat, karena dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu melainkan sebagai masyarakat sosial. Oleh karena itu, segala sesuatu dilakukan manusia dalam bertutur akan selalu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di sekitarnya.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulka bahwa sosiolinguistik adalah gabungan dua disiplin ilmu, yakni sosiologi dan linguistisk yang didalamnya membahas tentang bahasa dalam ranah kemasyarakatan, baik itu ciri khas variasi bahasa, fungsi-fungsinya, penerapannya, dan lain sebagainya. Dengan ilmu inilah bisa diketahui tentang penerapan bahasa dalam lingkungan sosial masyarakat.

4. Masalah-masalah sosiolinguistik dan psikolinguistik


1.      Masalah-masalah sosiolinguistik
Pada tahun 1964, dalam konferensi sosiolinguistik yang pertama telah dirumuskan tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik yang merupakan masalah dalam sosiolinguistik, yaitu :[25]
a.       Identitas sosial penutur : Identitas sosial dari penutur antara lain dapat diketahui dari pertanyaan apa dan siapa penutur tersebut, dan bagaimana hubungannya dengan lawan tutur
b.      Identitas sosial dari pendengaran yang terlibat : Identitas sosial dari pendengaran tentu harus dilihat dari pihak penutur.
c.       Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur : Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur dapat mempengaruhi pilihan kode dan gaya dalam bertutur.
d.      Analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial : Analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial berupa deskripsi pola-pola dialek sosial itu.
e.       Penilaian sosial yang berbeda oleh penutur terhadap prilaku bentuk-bentuk ujaran. Maksudnya, setiap penutur tentunya mempunyai kelas sosial tertentu di dalam masyarakat.
f.       Tingkatan variasi dan ragam linguistik
g.      Penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik : merupakan topik yang membicarakan kegunaan penelitian sosolingustik untuk mengatasi masalah-masalah praktis dalam masyarakat.

2.      Masalah-masalah psikolinguistik
Objek psikolinguistik adalah bahasa, tetapi bahasa yang berproses dalam jiwa manusia yang tercermin dengan gejala jiwa. Dengan kata lain, bahasa yang dilihat dari aspek-aspek psikologi. Orang yang sedang marah akan lain perwujudan bahasanya yang digunakan dengan orang yang bergembira.[26] Ruang lingkup psikolinguistik mencoba memberikan bahasa dilihat dari aspek psikologi dan sejauh yang dapat dipikirkan oleh manusia. Itu sebabnya topik-topik penting yang menjadi lingkupan psikolinguistik adalah psikolinguistik teoritis, psikolinguistik perkembangan, psikolinguistik sosial, psikolinguistik pendidikan, neuropsikolinguistik, psikolinguistik eksperimental, psikolinguistik terapan.[27]

Dalam psikolinguistik ada empat masalah utama yang dibahas :
a.       Komprehensif : proses-proses mental yang dilalui oleh manusia sehingga dapat menangkap apa yang dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud.
b.      Produksi :  proses-proses mental pada diri yang membuat seseorang dapat berujar seperti yang dia ujarkan.
c.       Landasan biologis dan neurologis, ini yang membuat manusia bisa berbahasa
d.      Pemeroleh bahasa : bagaimana anak memperoleh bahasa mereka.[28]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Du" Petter Maffay-tabulation song