A. Psikologi dan Linguistik
1. Psikologi
Kata psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psiche dan logos.psiche yang dalam bahasa Inggris bersinonim dengan soul, mind, dan spirit yang mempunyai arti jiwa, sedangkan logos artinya nalar, logika atau ilmu. Jiwa, dalam bahasa Arab disebut dengan nafs atau ruh yang merupakan masalah yang abstrak. Secara harfiah psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang keadaan jiwa manusia.
Karena masalah jiwa adalah masalah yang abstrak maka psikologi bukan membicarakan keadaan jiwa itu secara langsung, tetapi mempelajari sikap dan perilaku sebagai ekspresi keadaan jiwa yang ada. Hal ini didasarkan pada sebuah anggapan bahwa jiwa itu selalu diekspresikan melalui raga atau badan yang berbentuk sikap atau perilaku. Dengan mempelajari ekspresi yang tampak pada sikap dan perilaku seseorang maka akan diketahui keadaan jiwa orang yang bersangkutan.
Dalam setiap perkembangannya, psikologi lebih lebih
membahas atau mengkaji sisi manusia yang dapat diamati. Jiwa bersifat abstrak
sehingga tidak dapat diamati secara empiris, padahal objek setiap ilmu harus
dapat diobservasi secara indrawi. Maka dalam hal ini jiwa atau keadaan jiwa hanya bisa diamati melalui
gejala-gejalanya seperti orang yang sedang gembira akan berlaku riang dengan
wajah yang berbinar-binar, dan orang yang sedih akan tampak murung. Meskipun
demikian, sering didapati berbagai macam kesulitan untuk mengetahui keadaan
jiwa seseorang dengan hanya melihat
tingkah lakunya saja. Tidak jarang dijumpai seseorang yang sebenarnya jengkel
atau marah tetapi jiwanya tenang atau malah tertawa.
Meskipun sikap yang
terlahir dari seseorang belum tentu dapat menggambarkan gejolak yang ada dalam
jiwanya, namun psikologi lazim disebut sebagai satu bidang ilmu yang mencoba
untuk mempelajari perilaku manusia.
Yaitu dengan cara mengkaji hakikat rangsangan, hakikat reaksi terhadap
rangsangan tersebut, serta mengkaji terhadap proses-proses akal yang berlaku sebelum
reaksi itu terjadi. Sehingga para ahli psikologi saat ini cenderung menganggap
psikologi sebagai suatu ilmu yang mengkaji
proses “akal manusia” dengan segala manifestasinya yang mengatur
perilaku manusia itu. Tujuan pengkajian akal ini adalah untuk menjelaskan,
memprediksi, dan mengontrol perilaku manusia.
Lebih lanjut dalam perkembangannya psikologi dibagi menjadi
beberapa aliran sesuai dengan filsafat yang dianut. Karena itulah dikenal
adanya psikologi mentalistik, behavioristik, dan kognitifistik.Psikologi mentalistik akan melahirkan aliran yang
disebut psikologi kesadaran. Tujuan
utama dari psikologi kesadaran ini adalah mengkaji prosesproses akal manusia
dengan cara mengintrospeksi atau mengkaji diri. Oleh karena itu, psikologi
kesadaran ini sering disebut dengan psikologi introspeksionisme. Psikologi ini
juga merupakan suatu proses akal dengan cara
melihat ke dalam diri sendiri setelah terjadi suatu rangsangan.
Psikologi behavioristik melahirkan psikologi perilaku.
Adapun tujuan utama psikologi ini adalah mengkaji perilaku manusia yang berupa reaksi apabila
suatu rangsangan terjadi serta bagaimana mengawasi dan mengontrol perilaku
tersebut. Para pakar psikologi behavioristik ini tidak berminat mengkaji
proses-proses akal yang membangkitkan
perilaku tersebut karena
proses-proses akal ini tidak dapat diamati atau diobservasi secara
langsung. Jadi, para ahli psikologi perilaku
ini tidak mengkaji ide-ide, pengertian,
keinginan, maksud, pengharapan, dan segala mekanisme fisiologi. Yang dikaji
hanyalah peristiwa-peristiwa yang dapat diamati, yang nyata dan konkret, yaitu
tingkah laku manusia.
Psikologi kognitifistik sering disebut dengan psikologi
kognitif. Psikologi kognitif ini mengkaji proses-proses kognitif manusia secara
ilmiah. Yang dimaksud proses kognitif adalah proses-proses akal manusia yang bertanggungjawab mengatur pengalaman dan perilaku manusia. Hal utama yang dikaji dalam
psikologi kognitif ini adalah bagaimana cara manusia memperoleh, menafsirkan,
mengatur, menyimpan, mengeluarkan, dan menggunakan pengetahuannya, termasuk
perkembangan dan penggunaan pengetahuan bahasa. Yang membedakan dengan psikologi kesadaran adalah bahwa
menurut faham mentalisme proses-proses
akal itu berlangsung setelah terjadinya rangsangan. Sedangkan menurut
psikologi kognitif proses-proses akal
itu dapat terjadi karena kekuatan dari dalam, tanpa adanya rangsangan
terlebih dahulu. Perilaku yang muncul sebagai hasil proses akal
seperti ini disebut perilaku atau tindakan bertujuan sebagai hasil dari kreativitas organisme
manusia itu sendiri.
2. Linguistik
Linguistik secara
umum lazim disebut dengan ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai
objek kajiannya. Linguistik memperoleh kedudukan sebagai ilmu yang mandiri
(otonom) sebenarnya baru pada permulaan abad ke–20, yaitu setelah terbitnya
buku yang ditulis Ferdinand de Saussure (1916), Cours de Linguistique Generale, kemudian karya E Sapir (1912), Language, an Intoduction to Study of Speech,
serta terbitnya buku L. Bloomfield (1933) Language.
Linguistik merupakan ilmu yang empiris. Sebagai ilmu yang
empiris kajian linguistik bertolak
dari pengamatan yang objektif dan
teliti terhadap gejala tutur yang
berulang sama. Keempirisan linguistik antara lain ditentukan oleh:
a.
Data kebahasaan yang benar-benar ditemukan atau
dapat ditemukan dalam wujud pertuturan (pemakaian bahasa dapat dicek oleh
siapapun).
b.
Tersedianya data dalam jumlah yang sangat
memadai.
c.
Kemungkinan hasil kajian dapat diverifikasi oleh
pengkaji lain secara objektif.
Sebagaimana ilmu pengetahuan lain pada umumnya, Linguistik
mempunyai objek kajian. Objek kajian dalam linguistik adalah bahasa, sedangkan
bahasa sendiri merupakan fenomena yang
senantiasa hadir dalam setiap aktivitas kehidupan manusia, maka linguistik
itupun menjadi sangat luas bidang kajiannya. Oleh karena itu, hal ini dapat
dilihat dengan adanya berbagai cabang linguistik yang dibuat berdasarkan
berbagai kriteria atau pandangan. Secara umum pembidangan linguistik ini adalah
sebagai berikut:
Pertama, menurut
objek kajiannya, linguistik dapat dibagi atas dua cabang besar, yaitu linguistik mikro dan linguistik makro. Objek kajian dalam
linguistik mikro struktur internal bahasa itu sendiri mencakup struktur
fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.
Sedangkan objek linguistik makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa seperti faktor sosiologis, psikologis,
antropologis, dan bidang-bidang seperti sosiolinguistik, psikolinguistik,
neurolinguistik, dan etnolinguistik.
Kedua, menurut
tujuan kajiannya, linguistik dapat dibedakan atas dua bidang besar yaitu
linguistik teoritis dan linguistik terapan. Kajian teoretis hanya ditujukan
untuk mencari atau menemukan teori-teori
linguistik belaka. Hanya untuk membuat kaidah-kaidah linguistik secara deskriptif. Sedangkan kajian terapan
ditujukan untuk menerapkan kaidah-kaidah linguistik dalam kegiatan praktis,
seperti dalam pengajaran bahasa, penerjemahan, penyusunan kamus, dan
sebagainya.
Ketiga, menurut
periode perkembangannya terdapat linguistik historis dan sejarah linguistik.
Linguistik historis mengkaji perkembangan dan perubahan suatu bahasa atau
sejumlah bahasa, baik dengan diperbandingkan
maupun tidak. Adapun sejarah linguistik mengkaji perkembangan ilmu
linguistik baik yang mengenai
tokoh-tokohnya, aliran-aliran teorinya, maupun hasil-hasil kerjanya.
Senada dengan hal di atas, linguistik juga dapat dibedakan
menjadi linguistik deskriptif dan linguistik normatif/preskriptif. Masing-masing
mempunyai orientasi dan tujuan yang berbeda. Linguistik dekriptif mengkaji
fenomena kebahasaan yang senyatanya ada dan memberikan sistem bahasa
berdasarkan data yang sebenarnya. Hal ini berbeda dengan linguistik
normatif/preskriptif. Linguistik normatif mengkaji bahasa berdasarkan norma
atau ketentuan yang berlaku. Suatu wujud pertuturan bisa dianggap salah atau
benar berdasarkan norma tertentu tersebut. Sikap normatif ini biasanya terdapat
dikalangan pengajaran bahasa di sekolah.
Keempat,
berdasarkan cara kerjanya jenis linguistik yang lain adalah linguistik
komparatif sinkronis atau kontrastif dan linguistik diakronis. Sebagaimana
terlihat dari namanya, cara kerja dari linguistik komparatif adalah
memperbandingkan. Disebut linguistik komparatif sinkronis jika membandingkan
dua satuan lingual atau lebih yang serumpun untuk mengetahui persamaan dan
perbedaannya. Misalnya secara sinkronis bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa
Madura, Melayu, dan seterusnya dengan tujuan untuk menentukan perkerabatan bahasa
atau untuk mengetahui persamaan dan perbedaan gramatisnya. Disebut linguistik
komparatif kontrastif, jika membandingkan dua bahasa yang tidak serumpun.
Misalnya bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Pada jenis linguistik
komparatif diakronis dibandingkan beberapa bahasa yang serumpun dari waktu ke
waktu dengan tujuan pokok membuat rekonstruksi bentuk proto atau bentuk asal
bahasa induknya.
B. Psikolinguistik
Kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan
linguistik, yaitu dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri
sendiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan pula. Namun, keduanya
sama-sama mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa. Dengan demikian
cara dan tujuannyapun juga berbeda.
Meskipun cara dan tujuannya berbeda, banyak bagian-bagian
objeknya yang dikaji dengan cara yang sama dengan tujuan yang sama, meskipun
tidak sedikit yang berlainan. Oleh karena itu, telah lama dirasakan perlu
adanya kerja sama yang sinergis antara kedua disiplin ilmu ini untuk mengkaji
bahasa dan hakikat bahasa. Melalui kedua disiplin ini diharapkan dapat
diperoleh sebuah hasil kajian yang lebih baik dan bermanfaat.
Hubungan sinergis antara kedua disiplin ini pada awalnya
disebut linguistics psychology dan
ada juga yang mengatakan psychology of
language dengan penekanan yang berbeda pada keduanya. Kemudian sebagai
hasil yang lebih sistematis lahirlah sebuah ilmu baru yang disebut
Psikolinguistik, sebagai ilmu antar disiplin, antara psikologi dan linguistik.
Istilah psikolinguistik itu sendiri baru terlahir tahun 1954, yaitu saat
terbitnya buku Psycholinguistics: A
survey of Theory and Research Problems yang ditulis oleh Charles E. Osgood
dan Thomas A. Seboek, di Bloomington, Amerika Serikat.
Psikolinguistik dapat menguraikan proses-proses psikologi
yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya
pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana berbahasa itu diperoleh oleh manusia.
Maka secara teoretis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori
bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi dapat
menerangkan hakikat suatu bahasa serta proses pemerolehannya. Dengan kata lain
psikolinguistik mencoba menjelaskan perihal struktur bahasa serta bagaimana
struktur bahasa tersebut diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada
waktu memahami kalimat-kalimat yang digunakan dalan tuturan tersebut.
Hubungan yang sinergis antara psikologi dan linguistik
tidak hanya dapat menjelaskan bahasa saja, akan tetapi masih membutuhkan
bantuan berbagai macam disiplin ilmu yang lain seperti neurologi,
neuropsikologis, neurolinguistik, dan lain sebagainya. Sehingga walaupun telah
digunakan istilah psikolinguistik, bukan berarti hanya kedua bidang ilmu itu
yang diterapkan, akan tetapi hasil dari berbagai macam penelitian dari
ilmu-ilmu lain pun dimanfaatkan.
1. Macam-macam Psikolinguistik
Berdasarkan uraian di atas Psikolinguistik telah menjadi sebuah disiplin ilmu yang sangat luas
dan kompleks, sehingga dalam perkembangannya telah banyak melahirkan berbagai
macam subdisiplin psikolinguistik, di
antaranya adalah sebagaimana dijelaskan Chaer (2003) berikut ini:
§ Psikolinguistik Teoritis, yaitu
psikolinguistik yang membahas tentang
teori-teori bahasa yang berkaitan dengan
proses-proses mental manusia dalam berbahasa, misalnya dalam rancangan fonetik,
diksi, sintaksis, wacana, dan intonasi.
§ Psikolinguistik Perkembangan, yaitu
psikolinguistik yang mengkaji tentang proses pemerolehan bahasa, baik
pemerolehan bahasa pertama (BI) maupun proses pemerolehan bahasa kedua (B2). Di
samping itu psikolinguistik perkembangan juga mengkaji proses pemerolehan
fonologi, semantik, sintaksis yang diperoleh secara berjenjang, bertahap dan
terpadu.
§ Psikolinguistik Sosial, yaitu
psikolinguistik yang berhubungan dengan aspek-aspek sosial bahasa. Bagi suatu
masyarakat bahasa tertentu, bahasa tidak hanya merupakan alat berkomunikasi
saja akan tetapi merupakan sebuah ikatan batin yang sulit untuk ditinggalkan.
§ Psikolinguistik Pendidikan, yaitu
psikolinguistik yang mengkaji aspekaspek pendidikan dalam pendidikan formal di
sekolah. Seperti peranan bahasa dan pengajaran keterampilan berbahasa, serta
pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam proses memperbaiki
kemampuan menyampaikan ide dan perasaan.
§ Neuropsikolinguistik, yaitu
psikolinguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan otak manusia. Para
ahli neurologi telah banyak menganalisis struktur biologis otak manusia, serta
telah memberi nama pada bagian otak tersebut. Dalam hal ini neurolinguistik
berperan untuk menjelaskan tentang masukan bahasa dan bagaimana keluaran bahasa
setelah diprogram dan dibentuk dalam otak tersebut.
§ Psikolinguistik Eksperimen, dalam hal
ini psikolinguistik berusaha melakukan sebuah eksperimen dalam berbagai macam
kegiatan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa serta akibat yang
ditimbulkan pada pihak lainnya.
§ Psikolinguistik Terapan, psikolinguistik
ini berkaitan dengan penerapan dari berbagai macam temuan di atas kedalam
bidang-bidang tertentu yang memerlukannya. Yang termasuk kedalam bidang ini
adalah psikologi, linguistik, pertuturan dalam pemahaman, pembelajaran bahasa,
pengajaran membaca, neurologi,
psikiatri, komunikasi, dan sastra.
Psikolinguistik juga dapat diklasifikasikan ke dalam tiga
bidang utama sebagai berikut:
§ Psikolinguistik Umum, yaitu suatu studi
mengenai bagaimana pengamatan atau persepsi orang dewasa tentang bahasa dan
bagaimana ia memproduksi bahasa. Selain itu, psikologi umum juga mengkaji
proses kognitif yang mendasari pada waktu seseorang menggunakan bahasa.
§ Psikolinguistik Terapan, hal ini
merupakan aplikasi dari teori-teori psikolinguistik dalam kehidupan sehari-hari
pada orang dewasa ataupun pada anak-anak. Dalam bidang terapan ini ini masih
dibedakan menjadi dua macam. Pertama,
Applied general psycholinguistics yang meliputi Normal Applied Psycholinguistics (membicarakan pengaruh perubahan
ejaan terhadap persepsi orang mengenai ciri visual kata-kata) dan Abnormal Applied Psycholinguistics (mengkaji masalah kesukaran pengucapan pada
orang-orang penderita aphasia yang
kadang-kadang dapat mengerti bahasa tetapi kesulitan untuk mengucapkannya). Kedua, Applied Developmental Psycholinguistics yang terdiri atas (1) Normal Applied Developmental
Psycholinguistics yang membahas tentang bagaimana membuat program belajar
membaca dan menulis, apakah lebih baik menggunakan metode global atau metode
sintesis atau lainnya. (2) Abnormal
Applied Developmental Psycholiguistics yang membahas mengenai apa yang
dapat dilakukan untuk membantu anakanak yang mengalami keterlambatan dalam
perkembangan bahasanya yang disebabkan adanya kelainan yang bersifat bawaan.
Contohnya anak tuna rungu.
§ Psikolinguistik Perkembangan, yaitu
suatu kajian perolehan bahasa pada anak-anak dan orang dewasa. Dalam hal ini
juga dikaji tentang persoalan-persoalan yang dialami oleh seorang anak yang
harus belajar dua bahasa sekaligus, bagaimana seorang anak memperoleh bahasa
pertamanya, apakah orang dewasa yang belajar bahasa kedua juga mengalami hal
yang sama dengan seorang anak dalam memperoleh bahasa pertamanya, dan teknik
pengajaran bahasa yang bagaimana yang dapat mengurangi terjadinya interferensi
antara dua bahasa pada pembelajar.
2. Ruang Lingkup Kajian Psikolinguistik
Psikolinguistik yang merupakan sebuah kajian mengenai
penggunaan bahasa dan perolehan bahasa oleh manusia, akan senantiasa
menempatkan manusia sebagai pelaku dan sekaligus pengguna bahasa, sehingga
sistem-sistem yang ada pada diri manusia akan dapat menjelaskan bagaimana
manusia dapat menangkap ide-ide orang lain dan bagaimana ia dapat
mengekspresikan ideidenya sendiri melalui bahasa, baik secara tertulis maupun
secara lisan.
Adapun ruang lingkup kajian psikolinguistik dapat
dijelaskan melalui tabel berikut ini.
Tabel
Ruang Lingkup Ilmu Psikolinguistik
Bagian
|
Sub Bagian
|
Contoh
|
|
Psikolinguistik
Umum
Psikolinguistik
Perkembangan
|
Persepsi
|
Auditif
Visual
|
Mendengarkan menulis,
membaca
|
Kognitif
|
Ingatan Berpikir intuisi
|
Memori Verbal
Berpikir Verbal
|
|
Produksi
|
Auditif
Visual
|
Berbicara
Menulis
|
|
Bahasa Pertama
Bahasa Kedua
|
- Struktur
kalimat dua kata
- Belajar
membaca
- Interferensi
atau kemudahan yang disebabkan oleh bahasa pertama.
|
||
Psikolinguistik terapan
|
Umum
|
Normal
|
Studi tentang ejaan
|
Menyimpang
|
Aphasia
|
||
Perkembangan
|
Normal
|
Kurikulum
untuk belajar membaca
|
|
Menyimpang
|
Gagap, buta warna, disleksia
|
3. Pengertian Sosiolinguistik
a. Secara etimolongi kata Sosiolinguistik berasal dari bahasa Inggris, yaitu terdiri dari kata “socio” yang artinya masyarakat dan “linguistics” yang artinya ilmu bahasa.[1] Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang sagat erat.
b. Secara terminolongi, Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kegiatan sosial ataupun gejala sosial dalam suatu masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil objek bahasa sebagai objek kajiannya.[2]
Berikut ini ada beberapa defenisi sosiolinguistik yang dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya :[3]
a) Kridalaksana, sosiolinguistik lazim didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan dia antara para bahasawan dengan fungsi variasi bahasa itu di dalam masyarakat bahasa.
b) Fishman, sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa, dan pemakaian bahasa, karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur.
c) Booiji, mendefenisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan yang berperan dalam pergaulan.
d) Wikipedia, sosiolinguistik adalah kajian interdisipliner yang mempelajari pengaruh budaya terhadap cara suatu bahasa digunakan. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain.
e) Tarigan, merangkum semua pendapat tentang sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedududkan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa di dalam masyarakat, karena dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu melainkan sebagai masyarakat sosial. Oleh karena itu, segala sesuatu dilakukan manusia dalam bertutur akan selalu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di sekitarnya.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulka bahwa sosiolinguistik adalah gabungan dua disiplin ilmu, yakni sosiologi dan linguistisk yang didalamnya membahas tentang bahasa dalam ranah kemasyarakatan, baik itu ciri khas variasi bahasa, fungsi-fungsinya, penerapannya, dan lain sebagainya. Dengan ilmu inilah bisa diketahui tentang penerapan bahasa dalam lingkungan sosial masyarakat.
1. Masalah-masalah sosiolinguistik
Pada tahun 1964, dalam konferensi sosiolinguistik yang pertama telah dirumuskan tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik yang merupakan masalah dalam sosiolinguistik, yaitu :[25]
a. Identitas sosial penutur : Identitas sosial dari penutur antara lain dapat diketahui dari pertanyaan apa dan siapa penutur tersebut, dan bagaimana hubungannya dengan lawan tutur
b. Identitas sosial dari pendengaran yang terlibat : Identitas sosial dari pendengaran tentu harus dilihat dari pihak penutur.
c. Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur : Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur dapat mempengaruhi pilihan kode dan gaya dalam bertutur.
d. Analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial : Analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial berupa deskripsi pola-pola dialek sosial itu.
e. Penilaian sosial yang berbeda oleh penutur terhadap prilaku bentuk-bentuk ujaran. Maksudnya, setiap penutur tentunya mempunyai kelas sosial tertentu di dalam masyarakat.
f. Tingkatan variasi dan ragam linguistik
g. Penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik : merupakan topik yang membicarakan kegunaan penelitian sosolingustik untuk mengatasi masalah-masalah praktis dalam masyarakat.
2. Masalah-masalah psikolinguistik
Objek psikolinguistik adalah bahasa, tetapi bahasa yang berproses dalam jiwa manusia yang tercermin dengan gejala jiwa. Dengan kata lain, bahasa yang dilihat dari aspek-aspek psikologi. Orang yang sedang marah akan lain perwujudan bahasanya yang digunakan dengan orang yang bergembira.[26] Ruang lingkup psikolinguistik mencoba memberikan bahasa dilihat dari aspek psikologi dan sejauh yang dapat dipikirkan oleh manusia. Itu sebabnya topik-topik penting yang menjadi lingkupan psikolinguistik adalah psikolinguistik teoritis, psikolinguistik perkembangan, psikolinguistik sosial, psikolinguistik pendidikan, neuropsikolinguistik, psikolinguistik eksperimental, psikolinguistik terapan.[27]
Dalam psikolinguistik ada empat masalah utama yang dibahas :
a. Komprehensif : proses-proses mental yang dilalui oleh manusia sehingga dapat menangkap apa yang dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud.
b. Produksi : proses-proses mental pada diri yang membuat seseorang dapat berujar seperti yang dia ujarkan.
c. Landasan biologis dan neurologis, ini yang membuat manusia bisa berbahasa
d. Pemeroleh bahasa : bagaimana anak memperoleh bahasa mereka.[28]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar